9 Januari 2012

contoh karya tulis MA Miftahussalam Wonosalam Demak

MONUMEN NASIONAL (MONAS)
SEBAGAI TEMPAT / OBJEK WISATA


KARYA TULIS

Di ajukan untuk syaratdalam menempuh Ujian Nasional / Ujian Madrasah (UN/UM) Madrasah Aliyah Miftahussalam wonosalam Demak.




Disusun oleh :
Nama                     : Diah Istianingrum
No. Induk              : 885
Program Study       : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)


MADRASAH ALIYAH MIFTAHUSSALAM
WONOSALAM DEMAK
2011 / 2012
page i

HALAMAN PENGESAHAN




Karya tulis ini telah di setujui oleh guru pembimbing karya tulis dan di sahkan oleh kepala Madrasah Aliyah Miftahussalam Demak. Pada:
Hari                 :
Tanggal           :
Judul              : “Monumen Nasional (Monas) Sebagai Tempat /
Objek Wisata”

Wonosalam ,  Oktober   2011

Mengetahui ,

Kepala Madrasah Aliyah
Miftahussalam Wonosalam Demak,                           Pembimbing,
           


Drs. H. Khairul Anam, M.Si                                       Drs. H. Khairul Anam, M.Si
NIP: 150301431                                                        NIP: 150301431

page ii


MOTTO DAN PERSEMBAHAN


MOTTO :
*        Hidup adalah perjuangan untuk mencapai cita-cita.
*        Gunakanlah waktu mudamu sebelum dating masa tuamu.
*        Kesuksesan berasal dari kemauan yang keras.
*        Mulailah suatu pekerjaan dengan bacaan basmalah.
*        Tiada istilah tua untuk belajar.


PERESESMBAHAN
karya tulis ini mempersembahkan kepada:
·         Kedua orang tua kami yang membimbing serta mendorong belajar kami dan senantiasa mendo’akan kami.
·         Teman-teman seperjuangan serta adik-adik kelas yang selalu tertawa dan bermain bersama kami.
·         Pembaca yang budiman.


page iii


KATA PENGANTAR


Assalamualaikum Wr.Wb
Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT. Sehingga kita senantiasa di beri rahmat taufiq serta hidayahnya
sehingga dapat melakukan aktifitas sehari-hari.
Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepangkuan beliau nabi agung MUHAMMAD SAW.
Semoga kita senantiasa mendapat syafaatnya di dunia dan akhirat kelak amin,
Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.      Bapak Drs. H Khairul Anam, M.Si Selaku Kepala Madrasah Aliyah Miftahussalam.
2.      Bapak Drs. H Khairul Anam, M.Si Selaku Pembimbing yang memberikan pengarahan penyusunan karya tulis ini.
3.      Segenap guru dan karyawan madrasah aliyah miftahussalam.
4.      Semua pihak yang telah membantu pembuatan karya tulis ini.
Penulis menyadari bahwa pembuatan karya tulis ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, oleh karena itu,
penulis mengharap para pendidik khususnya para pembaca umumnya untuk meberikan kritik dan saran dalam rangka menyempurnakan karya tulis ini.
Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya. semoga karya tulis ini bermanfaat bagi
pihak yang berkepentingan.
Wassalamualaikum Wr.Wb


Penyusun

page iv

DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL......................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN...................................................................... ii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN................................................................... iii
KATA PENGANTAR................................................................................................ iv
DAFTAR ISI................................................................................................................. v

BAB   I        PENDAHULUAN
1.1.    Latar belakang............................................................................................ 
1.2.    Tujuan penulisan........................................................................................
1.3.    Pokok Permasalahan.............................................................................. 
1.4.    Metode penulisan...............................
1.5.    Manfaat / kegunaan......................................... 
1.6.    Sistematika penyusunan............................................................. 

BAB   II       PEMBAHASAN
2.1.   Sejarah berdirinya monas............................................................... 
2.2.   Museum sejarah monas............................................................. 
2.3.   Ruang kemerdekaan monas.........................................................................
2.4.   Relief sejarah monumen nasional................................................................. 
2.5.   Letak dan lokasi............................................................................................
2.6.   Pelataran puncak monas........................................................... 
2.7.   Wisata monas................................................................................... 
2.8.   Perkembangan monas...................................................................................
           
BAB   III     PENUTUP
4.1.   Kesimpulan............................................. 
4.2    Saran-saran............................................................... 

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR

page 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Menara  Eiffel di lapangan tepat di depan istana merdeka terdapat 51 karya yang masuk akan tetapi hanya
satu karya yang di buat oleh Frederich silaban yang memenuhi kriteria yang di tentukan komite. Dari 136
peserta yang memenuhi kriteria.
Soedarsono memasukkan angka 17,8 dan 45, tugu peringatan nasional ini kemudian di bangun di areal seluas
80 Ha.
Monumen nasional adalah museum yang terbesar se-Asia tenggara yang dibangun untuk menunjukkan hasil
riset di bidang kesenian dan ilmu pengetahuan terutama sejarah arkeologi.
karya tulis ini di buat berdasarkan hal-hal berikut:
1.1.1.           Untuk mengenal lebih jauh penelitian yang ada di Indonesia khususnya monumen nasional (monas).
1.1.2.           Menarik minat pembaca untuk mengunjungi monumen nasional.
1.1.3.           Menyadarkan kita bahwa di Indonesia terdapat banyak penelitian monas.

1.2.  Tujuan Penulisan.
Tujuan penyusunan karya tulis ini adalah:
1.2.1.           Memahami kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia.
1.2.2.           Untuk memenuhi syarat UM/UN madrasah aliyah miftahussalam.
1.2.3.           Memberikan dorongan siswa untuk belajar rajin.

1.3.  Pokok Permasalahan
Dalam penyusunan karya tulis ini penulis hanya membatasi masalah sebagai berikut:
1.3.1.           Bagaimana sejarah asal usul berdirinya monumen nasional?
1.3.2.           Bagaimana perkembangan monument nasional?


page 1


1.4.  Metode Penulisan
Metode yang penulis gunakan dalam karya tulis ini adalah:
1.4.1.           Metode Observasi, yaitu di man penulis melihat, mengamati, dan meneliti secara langsung pada obyeknya yaitu monument nasional.
1.4.2.           Metode literatur, yaitu dimana penulis membaca buku–buku guna membantu dan mendukung dalam menyusun karya tulis.
1.4.3.           Metode interview, yaitu penulis menanyakan langsung kepada pembimbing dan monas.
1.5.  Manfaat / kegunaan
1.5.1.           Dapat menambah pengetahuan siswa.
1.5.2.           Siswa dapat belajar membuat karya tulis.
1.5.3.           Siswa dapat lebih kreatif informative.
1.6.  Sistematika Penulisan
Sistematika penyusunan dalam karya tulis ini penulis di sajikan dalam beberapa BAB yaitu:
BAB I. Pendahuluan .
1.1.       Latar belakang.
1.2.       Tujuan penulisan.
1.3.       Pokok permasalahan.
1.4.       Metode penulisan.
1.5.       Manfaat / kegunaan.
1.6.       Sistematika penulisan.
BAB II. Pembahasan,
2.1.       Sejarah berdirinya monas.
2.2.       Museum sejarah monas.
2.3.       Ruang kemerdekaan.
2.4.       Relief sejarah monas.
2.5.       Letak dan lokasi.
2.6.       Pelataran puncak dan api kemerdekaan monas.
2.7.       Wisata monas
2.8.       Perkembangan monas
BAB III. Penutup,
3.1.   Kesimpulan.
3.2.   Saran.
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR


page 2



BAB II
PEMBAHASAN


2.1.    Sejarah Berdirinya Monumen Nasional
Sejarah Setelah pusat pemerintahan republik Indonesia kembali ke Jakarta setelah sebelumnya berkedudukan
di Yogyakarta pada tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan republik Indonesia oleh pemerintah belanda
pada tahun 1949. Presiden soekarno mulai memikirkan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara
dengan menara Eiffel di lapangan tepat di depan istana merdeka. pembangunan tugu monas bertujuan untuk
mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945. Agar
terus membangkitkan inspirasi bangsa Indonesia patriotisme generasi saat ini dan mendatang.
Pada tanggakl 17 agustus 1945 sebuah komite nasional di bentuk dan sayembara perancangan monumen
nasional di gelar pada tahun 1955. Terdapat 51 karya yang masuk. akan tetapi hanya satu yang di buat oleh
frederich silaban yang memenuhi kriteria yang di tentukan komite antara lain: menggambarkan karakter bangsa
indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad. Sayembara ke dua di gelar pada tahun 1960 tapi sekali
lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria. akan tetapi soekarno kurang menyukai rancangann
itu dan ia menginginkan monumen itu berbentuk lingga dan yoni.
silaban kemudian diminta merancang monumen dengan tema seperti itu, akan tetapi rancangan yang di
lakukan silaban terlalu luar biasa sehingga biayanya sangat besar dan tidak mapu di tanggung oleh anggaran
Negara. Terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk silaban menolak merancang bagunan yang lebih kecil
dan menyarankan pembangunan di tunda hingga ekonomi Indonesia membaik.
Soekarno kemudian meminta arsitek R.M. soedarsono untuk melanjutkan rancangan itu. soedarsono
memasukkan angka 17,8 dan 45 melambangkan 17 agustus 1945. Memulai proklamasi kemerdekaan
indonesia ke dalam rancangan monumen itu, tugu Ini kemudian di bangun di areal seluas 80 Ha, tugu ini di
arsiteki oleh frederich silaban dan R.M soedarsono, mulai di bangun 17 agustus 1961.
Pembangunan terdiri atas tiga tahap yaitu:
2.1.1.      Tahap pertama kurun 1661/1962 -1964/1965 di mulai dengan di mulainya secara resmi
pembangunan pada tanggal 17 Agustus 1961 soekarno secara seremonial menancapkan pasak beton
pertama, total 284 pasak beton di gunakan pada fondasi bangunan. Sebanyak 360 pasak bumi di tanamkan
untuk fondasi museum sejarah nasional. Pemasangan fondasi rampung pada bulan maret 1962 dinding
museum di dasar bangunan selesai pada bulan oktober. Pembangunan obelisk kemudian di mulai dan di
akhirinya rampung pada bulan agustus 1963.
2.1.2.      Tahap kedua: berlangsung pada kurun 1966 hingga 1968 akibat terjadinya gerakan 30 september
1969.(G-30-S-PKI) dan upaya kudeta, tahap ini sempat di tunda.
2.1.3.      Tahap akhir: berlangsung pada tahun 1969-1976 dengan menambah diorama pada museum sejarah .
Meskipun pembangunan telah rampung masalah masih terjadi, antara lain: kebocoran air yang menggenangi
museum, monument secara resmi di buka untuk umum dan di resmikan pada tanggal 12 juli 1975 oleh
presiden republic Indonesia soeharto. Lokasi pembangunan monument ini di kenal dengan nama medan
merdeka.
Lapangan monas mengalami lima kali pergantian nama yaitu:
·           Lapangan gambir.
·           Lapangan ikada.
·           Lapangan merdeka.
·           Lapangan monas.
·           Taman monas.
Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolah raga.




page 3


Pada hari-hari libur medan terbuka di penuhi pengunjung yang berekreasi menikmati pemandangan tugu
monas dan melakukan melakukan berbagai aktivitas dalam taman.
Rancang bangun tugu monas berdasarkan pda konsep pasangan universal yamg abadi lingga dan yoni tugu
obelisk yang menjulang tinggi adalah lingga yang melambangkan laki-laki elemen maskulin bersifat aktif  dan
pasif, serta melambangkan perempuan. Elemen feminism yang positif dan negatif serta melambangkan malam
hari, lingga dan yoni merupakan lambang kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi masa
prasejarah Indonesia.
Selain itu bentuk tugu monas juga dapat di tafsirkan sebagai sepasang “Alun” dan “lesung” alat penumbuk
padi yang di pakai dalam setiap rumah tangga petani tradisional. Dengan demikian rancang bangun monas
penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia.
Monumen terdiri atas 117.7 meter obeliks di atas landasan persegi tinggi the 17 meter, pelataran cawan
monumen ini di lapisi dengan marmer italy. kolam di taman medan merdeka utara berukuran 25x25 meter di
rancang sebagai bagian dari system pendingin udara sekaligus mempercantik penampilan taman monas. Di
dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung pangeran diponegoro yang sedang menunggan kudanya,
terbuat dari perunggu seberat 8 ton. Patung itu di buat oleh pemahat italia, prof. Coberlato sebagai
sumbangan oleh konsulat jendral honores.
Dr. Mario bross di india, pintu masuk monas,terdapat di taman medan merdeka utara dekat patung pangeran
diponegoro. pintu masuk melalui trowongan yang berada 3 meter di bawah taman dan jalan silang monas,
inilah ketika pengunjung menuju tugu monas. Loket tiket berada di ujung trowongan.

page 4



2.2.    Museum Sejarah Monas.
Di bagian dasar Monumen pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah terdapat museum sejarah
nasional indonesia. Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80x80 meter, dapat
menampung pengunjung sekitar 500 orang. Ruang besar berlapis marmer ini terdapat 48 diorama pada ke
empat sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga menjadi 51 diorama. Diorama ini di mulai hingga masa orde
baru.
Diorama ini di mula dari sudut timur laut bergerak searah jarum jam menulusuri perjalanan sejarah indonesia,
mulai masa prasejarah, masa kemaharajaan kuno seperti sriwijaya dan majapahit, di susul masa penjajahan
bangsa eropa yang di susul perlawanan para pahlawan nasional pra kemerdekaan melawan VOC dan
pemerintah hindia belanda. Diorama berlangsung erus hingga masa pergerakan nasional indonesia. Awal abad
ke-20, penduduk jepang, perang kemerdekaan dan masa revolusi, hingga masa orde baru di masa
pemerintahan soeharto.

2.3.    Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional (Monas)
Di bagian dalam cawan monumen terdapat ruang kemerdekaan berbentuk amphiteater. Ruang ini dapat di
capai melalui tangga berputar dari pintu sisi utara dan selatan. Ruang ini menyimpan symbol kenegaraan dan
kemerdekaan republik indonesia. Di antaranya:
2.3.1.      Naskah asli proklamasi kemerdekaan indonesia disimpan dalam kotak kaca di dalam pintu gerbang 
berlapis emas
2.3.2.      Lambang negara indonesia.
2.3.3.      Peta kepulauan negara kesatuan republik indonesia berlapis emas.
2.3.4.      Bendera merah putih.
2.3.5.      Dinding yang bertulis naskah proklamasi kemerdekaan indonesia.Di dalam ruang kemerdekaan
monumen nasional ini di gunakan sebagai ruang tenang untuk mengh
eningkan cipta dan berditasi mengenal hakikat kemerdekaan dan perjuangan bangsa indonesia. Naskah asli
proklamasi kemerdekaan indonesia disimpan dalam kotak kaca di dalam pintu gerbang  berlapis emas.
Pintu mekanis ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton berlapis emas di hiasi ukiran bunga wijaya kusuma yang
melambangkan keabadian, serta bunga teratai yang melambangkan kesucian. Pintu ini terletak di dinding sisi
barat di tengah ruangan berlapis marmer hitam.
Pintu  ini dikenal dengan nama ”gerbang kemerdekaan” yang secara akan membuka seraya
memperdengarkan lagu ”padamu negeri” di ikuti kemudian oleh rekaman suara soekarno tangah membacakan
naskah proklamasi pada tanggal 17 agustus 1945. Pada sisi selatan terdapat patung garuda pancasila,
lambang negara indonesi terbuat dari perunggu seberat 3,5 ton dan berlapis emas.
Pada sisi timur terdapat tulisan naskah proklamasi berhuruf perunggu, seharusnya sisi ini menampilkan
bendera yang paling suci dan di mulai sang saka merah putih, yang aslinya di kibarkan pada tanggal 17
agustus 1945 akan tetapi karena kondisinya sudah semakin tua dan rapuh, bendera suci ini tidak di pamerkan
sisi utara dinding marmer hitam ini menampilkan kepulauan nusantara berlapis emas, melambangkan lokasi
”negara kesatuan republik indonesia”.
page 5

2.4.    Relief Sejarah Monas
Pada halaman luar mengelilingi monumen pada tiap sudutnya terdapat relief timbul yang menggambarkan
sejarah indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut dengan mengabadikan kejayaan nusantara di masa
lampau, menampilkan sejarah singa sari dan majapahit.
Relief ini berlanjut secara kronologis menggambarkan masa penjajahan belanda, perlawanan rakyat indonesia
dan pahlawan-pahlawan nasional indonesia, terbventuknya organisasi modern yang memperjuangkan
indonesia merdeka pada awal abad ke-20, sumpah pemuda, penduduk jepang dan perangh dunia 2,
proklamasi kemerdekaan indonesia di susul revolusi dan perang kemerdekaan republik indonesia, hingga
mencapai masa pembangunan indonesia modern.
Relief dan patung-patung ini di buat dari semen dengan kerangka pipa atau logam. Sayang sekali beberapa
patung dan arca mulai rontok dan rusak akibat hujan dan cuaca tropis.

2.5.    Letak Berdirinya Monumen Nasional
Monumen Nasional terletak tepat di tengah lapangan medan merdeka Jakarta pusat. Monumen dan museum
ini di buka setiap hari mulai pukul 08.00 sampai 15.00 WIB. Pada senin pekan terakhir setiap bulanya di
tutup untuk umum. Pusat pemerintahan republik indonesia jakarta pada tahun 1950 menyusul pengakuan
kedaulatan republik indonesia.
Di bagian dasar monumen kedalaman 3 meter permukaan tanah, cawan yang menopang nyala perunggu,
bangsa indonesia senantiasa memiliki semangat memberikan pemandangan bagi pengunjung dari ketinggian 17
meter dari permukaan tanah.


2.6.       Pelataran Puncak Dan Api Kemerdekaan Monas.
Sebuah elevator (lift) pada pintu sisi selatan akan membawa pengunjung menuju pelataran puncak berukuran
11x11 meter di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Lift ini berkapasitas 11 orang sekali angkut.
Pelataran puncak ini dapat menampung sekitar 50 orang, serta terdapat teropong untuk melihat panorama
jakarta lebih dekat pada sekeliling badan  elevator terdapat tangga menikmati pemandangan seluruh penjuru
kota jakarta. Bila kondisi cuaca cerah tanpa asap kabut, di arah keselatan terlihat dari kejauhan gunung salak
di wilayah:
2.6.1.           Kabupaten bogor.
2.6.2.           Jawa barat.
2.6.3.           Arah  utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil.
Di puncak monumen nasional terdapat cawan yang menopang nyala obor perunggu yang beratnya mencapai
14,5 ton dan di lapisi emas 35 Kg. Lidah api atau obor ini berukuran tinggi 14 meter. Dan berdiameter 6
meter terdiri dari 77 bagian yang di satukan lidah api ini sebagai symbol semangat perjuangan rakyat indonesia
yang ingin meraih kemerdekaan. Awalnya:
2.6.1.      Nyala api perunggu ini dilapisi lembaran emas seberat 35 Kg.
2.6.2.      untuk menyambut perayaan setengah abad (50 tahun) kemerdekaan
indonesia pada tahun 1995.
2.6.3.      lembaran emas ini dilapisi ulang sehingga mencapai 50 Kg
lembaran emas.
Puncak tugu berupa”Api Nan Tak Kunjung Padam” yang bermakna agar bangsa indonesia senantiasa
memiliki semangat yang menyala–nyala dalam berjuang dan tidak pernah surut atau padam sepanjang masa.
Pelataran cawan memberikan pemandangan bagi pengunjung dari ketinggian 17 meter dari permukaan tanah.
Pelataran cawan dapat di capai melalui elevator ketika turun dari pelataran puncak, atau melalui tangga
mencapai dasar cawan, tinggi pelataran cawan dari dasar 17 meter.
Sedangkan rentang tinggi antara ruang museum sejarah ke dasar cawan adalah 8 meter (3 meter di bawah
tanah di tambah 5 meter tangga menuju dasar cawan) luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran
45x45 meter, semuanya merupakan pelestarian angka keramat proklamasi kemerdekaan RI (17-08-1945).

page 6

2.7.       Wisata Monas
Untuk mengunjungi Monas, ada banyak jenis transportasi yang dapat Anda gunakan. Jika Anda pengguna
kereta api, Anda dapat menggunakan KRL Jabodetabek jenis express yang berhenti di Stasiun Gambir. Anda
pun dapat menggunakan fasilitas transportasi Bus Trans Jakarta. Jika Anda menggunakan kendaraan pribadi,
tersedia lapangan parkir khusus IRTI, atau Anda dapat memarkir kendaraan Anda di Stasiun Gambir.
Untuk dapat masuk ke bangunan Monas, Anda dapat melalui pintu masuk di sekitar patung Pangeran
Diponegoro. Lalu Anda akan melalui lorong bawah tanah untuk masuk ke Monas. Anda pun dapat melalui 
pintu masuk di pelataran Monas bagian utara. Jam buka Monas adalah jam 9.00 pagi hingga jam 16.00 sore.
Monas dapat menjadi salah satu pilihan Anda untuk berwisata bersama keluarga dan tempat mendidik anak
anak untuk lebih mengenal sejarah Indonesia. Anda pun dapat menikmati udara segar dari rindangnya
pepohonan di Monas. Dan jangan lupa untuk menjaga kebersihan Taman Monas agar tetap indah untuk
dinikmati siapapun.


2.8.       Perkembangan Monas
2.8.1.   Monas Pada Masa Pra Kemerdekaan
Sejak ditetapkan sebagai lapangan parade militer pada masa Daendels, Koeningsplein mengalami beberapa
kali perubahan penataan. Pada tahun 1892 Dr. M. Treub, Kepala Kebun Raya Bogor, mengajukan
rancangan tata ruang baru untuk Koeningsplein, yaitu sebagai taman kota yang dilengkapi dengan pohon
pohon tropis.
Akses ke taman berupa sumbu-sumbu diagonal ditambah dengan sumbu melintang yang menghubungkan
dengan bangunan museum (Gedung Gajah) di sisi barat taman. Bagian tengah taman yang merupakan pusat
pertemuan sumbu-sumbu dirancang untuk menempatkan sebuah patung sebagai simbol “pusat Kota Batavia”.
dengan penataan seperti ini fungsi parade militer diusulkan untuk dikembalikan ke Waterlooplein. Rancangan
Dr. M. Treub ini tidak sempat direalisasikan.
Berdasarkan catatan atas pemetaan Koningsplein, diketahui bahwa pada tahun 1918 lapangan ini telah
tersegmentasi menjadi beberapa bagian dan beberapa bangunan besar didirikan di atasnya. di sisi utara
terdapat bangunan reservoir air dan di dekatnya terdapat fasilitas sportsclub. Masih di sisi utara, berhadapan
dengan Istana Gambir (sekarang Istana Merdeka) terdapat kompleks gedung kantor telepon.
Di sisi barat terdapat kompleks bangunan dan taman yang dinamai Helbachpark. Di bagian timur laut terdapat
dua taman, yaitu Decapark dan Frombergpark serta gedung bioskop. Di dekat stasiun Gambir terdapat
lapangan pacuan kuda dan di sebelah baratnya lahan untuk festival tahunan Pasar Gambir.
Pada tahun 1930, melalui suatu sayembara, Ir. Thomas Karsten seorang arsitek mengusulkan untuk menata
kembali Koningsplein dengan titik tolak konsepsi ”alun-alun”.
 Sebagaimana terungkap pada rencana di tahun 1937, ada upaya menempatkan gedung Dewan Kota di
tengah-tengah lapangan. Ada rencana pula menempatkan alun-alun di sisi selatan gedung Dewan Kota seluas
500 m x 500 m, lengkap dengan pohon beringin.
Pada dasarnya, melalui rencana ini hendak dikukuhkan status Koningsplein sebagai pusat orientasi Kota
Batavia yang dilengkapi berbagai fasilitas sosial-budaya dan olahraga, di samping fasilitas lain yang bersifat
formal kepemerintahan.
Hanya sebagian kecil dari gagasan Karsten terwujud, selebihnya gagal di implementasikan karena segera
setelah itu meletus Perang Dunia ke II.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) relatif tidak ada perubahan fisik yang signifikan atas
Koningsplein selain perubahan nama menjadi Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta). Kawasan di sekitar
Lapangan Ikada pun tidak mengalami banyak perubahan.
2.8.2.   Monas Pada Masa Pasca Kemerdekaan
Setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonasia (tahun 1949) terjadi suatu momentum
perubahan yang cukup berarti atas kawasan tersebut. Istana Merdeka (eks Istana Gambir) dan Istana Negara
(eks Istana Rijswijk) resmi menjadi pusat pemerintahan, selanjutnya Lapangan Ikada diubah namanya menjadi
Lapangan Merdeka. Beberapa taman dinamai dengan menggunakan nama tokoh nasional, seperti Chairil
Anwar, Ronggowarsito, Amir Hamzah, dan W.R Supratman. Gagasan menasionalisasikan kawasan tersebut
kemudian diteruskan melalui konsep pengembangan kawasan Monumen Nasional serta pendirian Tugu
Nasional. Pola diagonal usulan Dr. Treub muncul kembali. Dalam gagasan ini, kawasan di sekitar Lapangan
Merdeka dijadikan simbol kebesaran bangsa dan negara melalui penempatan fasilitas-fasilitas nasional yang
berskala dunia.
Termasuk dalam konsep ini adalah pengembangan Teater Nasional, Galeri Nasional, Masjid Istiqlal, dan
Lapangan Banteng (dengan Tugu Pembebasan Irian Barat) serta Hotel Banteng (kemudian diubah namanya
menjadi Hotel Borobudur).
Di tahun 1970-an sisi selatan Lapangan Merdeka dijadikan arena Pekan Raya Jakarta (Jakarta Fair) dan
Taman Ria Monas yang dimaksudkan untuk mengulangi kesuksesan Pasar Gambir.
Namun kemudian kegiatan tersebut dirasakan mulai tidak cocok sebagai pemanfaatan Lapangan Merdeka.
Arena Pekan Raya Jakarta kemudian dipindahkan ke lahan bekas bandara Kemayoran. Salah satu
pengaturan di kawasan sekitar Monas yang diketahui oleh banyak orang adalah ketentuan bahwa:
2.8.2.1.       Tidak di ijinkan ada bangunan melebihi ketinggian tugu
      Monumen Nasional,
2.8.2.2.       Tidak di ijinkan kehadiran fungsi komersial/swasta.
page 7


2.8.3.   Kondisi Kawasan Monas Saat Ini
Belum lama berselang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pengelola kawasan Monas telah membangun
pagar besi di sekeliling lapangan. Pintu-pintu gerbang disediakan di sudut-sudut kawasan (akses diagonal)
serta bukaan di pintu masuk lapangan parkir di sisi selatan. Sebelumnya rencana pemagaran ini mendapat
tentangan keras dari kalangan masyarakat yang mengkhawatirkan keberadaan pagar akan membatasi akses
publik ke Lapangan Monas. Pemagaran Lapangan Monas juga tidak tercantum dalam masterplan kawasan
ini.
Dalam konstelasi kelangkaan ruang publik di kota Jakarta, Lapangan Monas merupakan tempat rekreasi
gratis bagi warga kota Jakarta. Setiap hari Minggu lapangan ini dipenuhi warga masyarakat yang berolahraga
atau berekreasi, baik di taman, di kolam-kolam, maupun di tepi-tepi jalan (akses diagonal). Oleh karenanya
warga kota kuatir bila pemagaran akan membuat akses mereka ke Monas menjadi terbatas.
Meski mendapat tentangan keras, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersikukuh melaksanakan pemagaran
Lapangan Monas. Alasan yang dikemukakan adalah untuk menertibkan kawasan tersebut yang sebelumnya
sangat semerawut oleh keberadaan para pedagang makanan-minuman yang tidak tertib. Selain itu, setelah
pemagaran selesai lapangan Monas akan digunakan untuk membiakkan rusa totol (seperti di halaman depan
Istana Bogor). Beberapa ekor rusa telah dilepaskan di lapangan ini, meski masih perlu dibuktikan apakah
akan berhasil.
Sementara itu, sisi selatan masih dominan dengan kegiatan parkir yang melayani pegawai serta tamu kantor
kantor di Jalan Medan Merdeka Selatan, terutama kantor Pemerintah Provinsi DKI. Selain itu, beberapa
rumah makan juga mulai bermunculan di sekitar lokasi parkir. Hal ini menandakan bahwa di lapangan ini telah
berlangsung kecenderungan perkembangan yang tidak sesuai dengan masterplan kawasan.

page 7

BAB III
PENUTUP




Penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmatnya dan petunjuk-Nya penulis dapat menyusun laporan ini dengan sempurna.
Dan detik-detik kata terakhir ini apabila dalam laporan ini ada kekeliruan baik segi penulisan, susunan kalimat, dan penyusunan kata, atas perhatianya penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Untuk itu penulis mengharapkan kepada pembaca agar dapat memberi saran dan kritik yang membangun guna penelitian lainnya.
Demikian laporan yang saya buat maka dari uraian di atas penulis mengambil kesimpulan dan saran-saran sebagai berikut:

3.1.       KESIMPULAN
3.1.1.      Monumen nasional memiliki tugas utama sebagai tempat penyimpanan dan pada masa perjuangan
bangsa indonesia.
3.1.2.      Museum mempunyai peranan penting dalam usaha dan sejarah perjuangan bangsa indonesia.
3.1.3.      Dengan keberadaan museum tersebut pihak pengelola memberikan retribusi sehingga mendapat
penghasilan untuk meles tarikan museum nasional (monas).

3.2.       SARAN-SARAN
Setelah kita memahami uraian-uraian di atas, maka penulis akan menyampaikan saran-saran sebagai berikut:
3.2.1.      Jadikanlah dirimu orang yang siap pakai dalam hal apapun sebab menjadi jembatan kehidupanmu.
3.2.2.      Hormatilah orang tua dan guru-gurumu karena lantaran beliaulah kamu menjadi orang yang sukses.
3.2.3.      Tunjukkanlah dirimu peranan madrasahmu sebagai forum perwujudan kebudayaan nasional.
Dengan rahmat allah SWT yang maha kuasa penulis di beri beberapa kenikmatan yaitu dapat menyelesaikan
tugas dalam menyusun laporan ini dan semoga laporan ini dapat memberi manfaat bagi kita semua “AMIN
YA ROBBAL ALAMIN”

page 8


DAFTAR PUSTAKA



Dinas Pariwisata profinsi daerah tingkat 1 jawa barat 1986 :wajah pariwisata jawa barat, yayasan 17 oktober, jakarta.
2.      Singarimbun, masri, efendi. 1987: metode penelitian survei Lp3 SES,jakarta.
3.      Direktorat geologi, 1976, buku tentang ilmu pengetahuan sosial, no.07/XI/7/1.1996 subang jawa barat.
Dirjen vulkanologi, direktur geologi, buku pedoman bandung.

page 9

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar